Dakwah Digital: Menjadi Pencerah di Tengah Bisingnya Dunia Maya
Dakwah Digital: Menjadi Pencerah di Tengah Bisingnya Dunia Maya
Oleh: Qoimul Haq (Anggota Bidang Keilmuan Periode 24/25)
Perkembangan teknologi digital telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk cara umat Islam berdakwah. Dakwah di era digital bukan lagi terbatas pada mimbar atau majelis taklim, melainkan telah merambah ke media sosial, video streaming, podcast, dan berbagai platform daring lainnya. Ini membuka peluang luar biasa untuk menjangkau audiens yang lebih luas, lintas daerah, bahkan lintas negara. Namun, bersamaan dengan peluang tersebut, muncul pula tantangan besar yang perlu dihadapi secara bijak dan strategis.
Salah satu tantangan utama adalah derasnya arus informasi di internet yang tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan. Banyak konten yang berisi informasi tidak valid, bahkan hoaks, turut menyebar dengan cepat. Konten semacam ini tidak jarang menimbulkan kebingungan, perpecahan, dan kesalahpahaman dalam memahami ajaran Islam. Di sinilah pentingnya sikap kritis dan selektif dalam menyerap serta membagikan informasi.
Tantangan lainnya adalah meningkatnya konten negatif dan ekstremis di media sosial yang mengatasnamakan dakwah. Konten yang bersifat provokatif, intoleran, atau radikal berpotensi merusak citra Islam yang sejatinya rahmatan lil ‘alamin. Maka, penting bagi para dai dan pegiat dakwah digital untuk menjaga etika dalam menyampaikan pesan, menampilkan sikap santun, dan mengedepankan nilai-nilai universal Islam seperti kasih sayang, keadilan, dan kebaikan.
Selain itu, dakwah digital menuntut kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan preferensi generasi muda. Generasi milenial dan Gen Z, misalnya, lebih tertarik pada konten yang visual, ringkas, dan interaktif. Para dai harus mampu mengemas materi dakwah secara menarik, komunikatif, dan mudah dicerna. Tidak cukup hanya mengandalkan teks panjang dan ceramah formal, tetapi perlu menggunakan pendekatan kreatif yang sesuai dengan karakter audiens digital.
Meski penuh tantangan, era digital juga menawarkan berbagai peluang. Media sosial memungkinkan interaksi dua arah yang lebih intens, seperti melalui sesi tanya jawab live atau komentar langsung. Hal ini menjadikan dakwah terasa lebih personal, terbuka, dan responsif. Selain itu, teknologi juga memberi ruang untuk inovasi dakwah melalui desain grafis, animasi, dan storytelling digital yang menyentuh hati.
Kesimpulannya, dakwah di era digital bukan hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga soal bagaimana membentuk komunikasi yang efektif, santun, dan bermakna. Dengan menguasai teknologi, memahami audiens, dan menjaga substansi ajaran, dakwah digital bisa menjadi sarana strategis untuk menyebarkan Islam yang damai, solutif, dan kontekstual di tengah tantangan zaman.
Komentar