Jejak Digital, Amal Kekal: Etika Bersosial Media dalam Islam

Jejak Digital, Amal Kekal: Etika Bersosial Media dalam Islam
Oleh: Mila Fauziah (Mahasiswi Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir angk.2023)

Di era digital yang semakin mendunia, batas-batas fisik perlahan memudar digantikan oleh ruang maya yang tak berbatas. Media sosial telah menjadi panggung baru bagi pertemuan beragam ide, gagasan, dan identitas. Namun, di balik luasnya interaksi di dunia maya, muncul pula tantangan etis yang tak kalah besar, khususnya dalam hal pembentukan dan ekspresi identitas diri.

Belakangan ini, kita menyaksikan fenomena yang mencolok: konstruksi identitas digital yang sering kali tidak selaras dengan realitas kehidupan seseorang. Banyak individu cenderung menampilkan versi terbaik—atau bahkan versi yang direkayasa—dari diri mereka. Unggahan diseleksi, citra dipoles, dan profil dikurasi agar sesuai dengan harapan publik. Meskipun hal ini bisa dimaklumi sebagai bagian dari dinamika sosial modern, ia menyimpan potensi untuk menumbuhkan ketidakjujuran, bahkan kepalsuan, dalam interaksi kita.
Sebagai seorang Muslim, kita dipandu oleh nilai kejujuran (shidq) dan keterbukaan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah kamu bersama orang-orang yang benar." (At-Taubah: 119)

Ayat ini adalah seruan tegas untuk menegakkan kejujuran—bukan hanya dalam ucapan, tetapi juga dalam tindakan, termasuk dalam bagaimana kita membentuk citra diri secara daring. Representasi diri di media sosial melalui unggahan, komentar, maupun profil pribadi harus mencerminkan nilai kebenaran. Bila tidak, kita justru menyalahi prinsip yang diajarkan agama.

Selain itu, media sosial kerap menjadi ladang subur bagi perbandingan sosial yang tidak sehat. Ketika terus-menerus disuguhi potongan terbaik dari kehidupan orang lain, kita bisa terjebak dalam perasaan rendah diri, iri hati, hingga depresi. Padahal, setiap orang memiliki jalan hidup dan ujian masing-masing. Melupakan realitas ini bisa mengikis rasa syukur yang seharusnya senantiasa kita pelihara.

Islam mengajarkan pentingnya bersyukur dalam segala keadaan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika tertimpa musibah, ia bersabar, maka itu juga baik baginya.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan media sosial sebagai ladang amal dan sarana menyebarkan kebaikan, bukan sebagai ajang pencitraan palsu atau sumber perbandingan yang meresahkan jiwa. Gunakanlah platform ini untuk mempererat silaturahmi, menyebarkan ilmu yang bermanfaat, dan menginspirasi sesama untuk terus berbuat baik. Hindarilah konten yang bersifat ghibah, fitnah, atau ujaran kebencian, karena setiap jejak digital kita akan dimintai pertanggungjawaban kelak.

Ingatlah, identitas sejati kita bukanlah yang dilihat manusia, melainkan yang diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Popularitas di dunia maya tidak menjadi ukuran kemuliaan, karena yang dinilai adalah ketakwaan dan amal saleh kita.

Refleksi ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga integritas dan kejujuran dalam membangun identitas digital. Sebagai Muslim, kita memiliki tanggung jawab etis untuk merepresentasikan diri secara autentik sesuai nilai-nilai Islam. Hindarilah jebakan perbandingan sosial yang melemahkan rasa syukur dan ketenangan jiwa. Sebaliknya, mari kita jadikan media sosial sebagai sarana dakwah dan penyebaran kebaikan, yang berorientasi pada ridha Allah dan kemaslahatan sesama. Semoga jejak digital kita kelak menjadi saksi kebaikan di hadapan-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Insiden Mahasiswa yang Terbunuh di Masjid yang Mengemuka Publik

Resmi Dimulai! Pemasangan Tanda Kepesertaan Jadi Momen Spesial di Pembukaan Training Himpunan 2025

Hijab: Lebih dari Sekedar Penutup, Sebuah Dakwah yang Hidup