Menggugah Dakwah di Tengah Kemiskinan: Peran Para Da'i dalam Membangun Kesejahteraan Umat
Menggugah Dakwah di Tengah Kemiskinan: Peran Para Da'i dalam Membangun Kesejahteraan Umat
Oleh: Nurul Suciati (Anggota Bidang Litbang Periode 24/25)
Ketika Kemiskinan Menjadi Wajah Umat
Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mengentaskan kemiskinan yang masih melilit sebagian besar umat. Banyak dari mereka yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau hidup dalam garis kemiskinan adalah Muslim.
Dalam kondisi seperti ini, menarik untuk melihat apa yang bisa dilakukan oleh para dai—pemuka agama seperti kiai, ustadz, ustadzah, ibu nyai—juga para pemimpin organisasi masyarakat Islam, serta seluruh Muslim yang memiliki potensi finansial, keterampilan, waktu, maupun tenaga untuk membantu. Tulisan ini bertujuan untuk membangkitkan kembali kesadaran akan fungsi dakwah dalam mengatasi persoalan kemiskinan, melalui strategi filantropis dan reformulasi institusi sosial demi mengurangi jumlah masyarakat miskin.
Pertanyaan penting yang diajukan: Dapatkah para dai menjalankan dakwah yang menggugah kesadaran umat Islam untuk saling membantu keluar dari jerat kemiskinan? Tulisan ini dibagi menjadi tiga bagian, dimulai dari penjelasan tentang pengertian kemiskinan, strategi pengentasannya, hingga peran dakwah dalam membangun kesejahteraan.
Kemiskinan bukanlah hal yang asing. Dalam ceramah keagamaan, kita sering diingatkan untuk berbagi kepada yang membutuhkan. Realitas ini dapat kita temui dalam perjalanan ke desa terpencil atau sudut-sudut kota: rumah-rumah tidak layak huni, lingkungan yang kurang manusiawi.
Di ranah politik dan pemerintahan, kemiskinan menjadi indikator penting dalam menilai keberhasilan sebuah rezim. Pemerintah dianggap berhasil jika mampu mengurangi kemiskinan melalui fasilitas publik seperti pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja.
Namun, kemiskinan bukan hanya soal ekonomi. John Friedman (dalam Bagong Suyanto dan Karnaji) menjelaskan bahwa kemiskinan adalah ketimpangan dalam akses terhadap basis kekuasaan sosial—seperti kepemilikan aset, akses keuangan, serta keberadaan organisasi sosial yang mendukung.
Karena itu, tujuan dakwah bukanlah membiasakan umat pada kemiskinan, melainkan mengubah kondisi menuju kehidupan yang lebih baik. Seperti dijelaskan M. Quraish Shihab, dakwah yang sempurna adalah yang mendorong manusia meraih kesejahteraan lahir dan batin.
Dakwah dan Solidaritas Sosial: Zakat sebagai Pilar Utama
Dalam Islam, membantu orang miskin adalah perintah agama. Ada yang wajib (zakat), dan ada yang sunnah (shadaqah, infaq). Menurut Saefuddin dalam Mohammad Daud Ali, kata "zakat" disebut 82 kali dalam Al-Qur’an, sering dirangkaikan dengan shalat. Ini menegaskan pentingnya zakat sebagai bentuk solidaritas sosial.
Namun di tengah fakta bahwa banyak umat Muslim hidup mewah, berhaji dan umrah berkali-kali, masih ada begitu banyak yang terjebak dalam kemiskinan. Di sinilah dakwah diuji: sudahkah zakat dan sedekah benar-benar menjadi bagian hidup umat?
Pertanyaan-pertanyaan reflektif penting untuk kita renungkan:
Sudahkah saya menunaikan zakat sebagaimana diperintahkan Allah?
Masihkah ada harta yang saya sembunyikan dari kewajiban zakat?
Sudahkah saya benar-benar peduli terhadap kaum dhuafa di sekitar saya?
Tanpa kesadaran penuh atas pentingnya solidaritas sosial, fungsi dakwah dalam mengatasi kemiskinan tidak akan mencapai hasil maksimal.
Strategi Dakwah: Dari Pencerahan Menuju Tindakan Nyata
Penulis mengusulkan beberapa alternatif langkah dakwah yang dapat menjadi bagian dari solusi kemiskinan:
1. Para dai bersikap rendah hati dan hidup sederhana. Sikap ini menjadi teladan nyata bagi umat.
2. Mengenali potensi masyarakat miskin. Bukan hanya memberi, tetapi juga membangun kapasitas mereka untuk mandiri.
3. Melakukan aksi nyata sesuai kemampuan. Sekecil apa pun kontribusi, akan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan.
Setiap Muslim sejatinya adalah pelaku dakwah di tingkatan masing-masing. Sabda Rasulullah ﷺ: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Maka, mari kita berlomba-lomba menjadi manusia terbaik, bukan hanya dengan ucapan, tetapi melalui aksi yang nyata.
Evaluasi Dakwah, Evaluasi Diri
Tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua: dakwah seharusnya membawa perubahan sosial. Ukuran keberhasilannya adalah berkurangnya jumlah orang miskin di sekitar kita. Jika tidak, berarti pelaksanaan dakwah perlu dievaluasi.
Evaluasi ini dapat mencakup:
Apakah pelaku dakwah telah benar-benar menjalankan perannya dengan keteladanan?
Apakah masyarakat sasaran dakwah siap untuk berubah?
Apakah lembaga sosial berfungsi sebagaimana mestinya?
Sudahkah potensi yang ada dalam masyarakat dioptimalkan?
Penelitian dan evaluasi dakwah perlu dilakukan secara berkelanjutan, agar dakwah tidak berhenti di mimbar, tetapi menembus realita dan membawa umat keluar dari belenggu kemiskinan menuju kesejahteraan.
Komentar