Menjadi Pemimpin yang Hebat: Pandangan Islam Tentang Kepemimpinan
Menjadi Pemimpin Hebat: Pandangan Islam Tentang Kepemimpinan
Oleh: Yuliana (Anggota Bidang Litbang Periode 24/25)
Pemimpin adalah Penentu Arah Umat
Kepemimpinan memiliki peranan penting dalam menentukan arah kehidupan umat. Jika suatu komunitas dipimpin oleh pemimpin yang kompeten dan adil, maka komunitas tersebut berpotensi mencapai kemajuan. Sebaliknya, kepemimpinan yang lemah dapat menyebabkan kemunduran, bahkan kehancuran.
Ibnu Khaldun menyebutkan empat syarat bagi seorang khalifah: pengetahuan (al-‘ilm), keadilan (al-‘adālah), kemampuan (al-qudrah), dan kesehatan jasmani. Dalam sejarah Islam, Nabi Sulaiman menjadi contoh teladan: beliau memimpin bukan hanya manusia, tapi juga jin dan hewan.
Dalam Islam, kepemimpinan (al-imāmah) bukan hanya perkara politik, tetapi bagian dari amanah syar’i yang harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab. Setiap individu sejatinya adalah pemimpin, entah dalam skala besar (seperti negara) maupun kecil (seperti keluarga dan diri sendiri).
Secara bahasa, "memimpin" berarti menuntun, membimbing, dan menunjukkan arah. Dalam bahasa Arab disebut al-Imamah, yaitu peran sentral dalam mengatur dan membina umat. Dalam Islam, fungsi kepemimpinan terbagi dua:
1. Arah (Direction): Mewujudkan visi dan misi organisasi atau masyarakat yang dipimpin.
2. Dukungan (Support): Menggerakkan dan melibatkan anggota kelompok secara aktif untuk mencapai tujuan bersama.
Menurut Imam Al-Mawardi, kepemimpinan dalam Islam memiliki dua tujuan utama; pertama menjaga agama sebagai kelanjutan dari misi kenabian. Kedua mengatur urusan dunia dengan keadilan, menciptakan keamanan, dan menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Tanpa pemimpin, masyarakat akan kacau. Karena itu, Islam menekankan pentingnya pemimpin di setiap lini kehidupan: dari imam shalat hingga kepala negara.
Islam memberikan kriteria yang jelas bagi seorang pemimpin. Di antaranya adalah:
1. Siddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah – empat sifat utama yang wajib dimiliki.
2. Memiliki visi yang jelas, sebagaimana tertuang dalam QS. As-Sajdah: 24.
3. Adil dan ahli dalam amanah, sesuai QS. An-Nisa: 58.
4. Tidak dzalim, QS. Al-Baqarah: 124.
5. Tidak mengikuti hawa nafsu, QS. Shad: 26.
6. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya, QS. An-Nisa: 59.
7. Mampu membangun tim yang solid, QS. As-Saff: 4 dan Ali Imran: 103.
Pemimpin bukan hanya yang cerdas, tetapi yang mampu membawa perubahan positif. Keberanian dalam mengambil risiko demi kebaikan menjadi nilai penting dalam kepemimpinan Islam.
Nilai luhur yang bisa dicontoh dari para pemimpin Islam terdahulu antara lain:
• Ketegasan dan keadilan dalam menegakkan hukum.
• Keikhlasan dan kedermawanan dalam membantu sesama tanpa pamrih.
• Kebijaksanaan dan kesederhanaan, agar dekat dengan rakyat dan memahami permasalahan mereka.
• Keberanian positif (Syaja’ah) dalam membela kebenaran.
Kepemimpinan dalam Islam adalah amanah besar yang menggabungkan ilmu, akhlak, visi, dan ketegasan. Pemimpin ideal tidak hanya menguasai arah, tetapi juga mampu mengayomi, menegakkan keadilan, dan menjaga nilai-nilai Islam dalam setiap kebijakan dan tindakannya. Maka dari itu, menjadi pemimpin dalam Islam adalah bentuk pengabdian yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan ketulusan.
Komentar