Transformasi Dakwah di Era Digital: Ketika Pesan Islam Menyapa Dunia Tanpa Batas
Transformasi Dakwah di Era Digital: Ketika Pesan Islam Menyapa Dunia Tanpa Batas
Oleh: Arhamullah Asna (Anggota Bidang Keilmuan Periode 24/25)
Di tengah arus deras perkembangan teknologi informasi, dakwah Islam tak lagi hanya disampaikan dari atas mimbar atau majelis pengajian. Sebuah artikel dalam Jurnal An-Nasyr yang ditulis oleh Ibnu Kasir dan Syahrol Awali dari UNISAI menunjukkan bahwa dakwah kini telah mengalami transformasi signifikan ke arah digitalisasi. Melalui media sosial, video pendek, podcast, blog, hingga live streaming, pesan Islam menjangkau audiens tanpa batas geografis dan waktu.
Penelitian yang diulas dalam jurnal ini menggunakan pendekatan yang kaya dan berlapis: studi literatur, wawancara mendalam, diskusi kelompok (FGD), analisis konten, serta data sekunder. Tujuannya adalah untuk menggambarkan strategi dakwah digital, sejauh mana efektivitasnya, dan berbagai tantangan yang muncul di dalamnya.
Salah satu kekuatan utama dari dakwah digital adalah kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan teori-teori komunikasi modern. Dakwah tidak lagi hanya dilihat sebagai kegiatan satu arah, tetapi sebagai proses komunikasi persuasif yang interaktif. Dalam artikel ini, para penulis mengaitkan dakwah dengan teori Lasswell, Uses and Gratifications, Interaksi Simbolik, hingga Agenda Setting. Semua ini menunjukkan bahwa dakwah yang efektif sangat ditentukan oleh pemahaman terhadap kebutuhan audiens dan karakteristik media yang digunakan.
Media digital seperti YouTube, Instagram, Facebook, Twitter, hingga TikTok menjadi arena utama bagi para da’i dan influencer Muslim. Mereka tidak hanya menyampaikan ceramah, tetapi juga membagikan kutipan ayat dan hadis, menjawab pertanyaan audiens, hingga menampilkan keteladanan hidup. Konsep dakwah bil hal—menyampaikan nilai Islam melalui tindakan nyata—juga hadir dalam bentuk video sosial, aksi kemanusiaan, dan interaksi yang santun di dunia maya.
Namun, dakwah digital bukan tanpa tantangan. Validitas informasi, banjirnya konten hiburan, serta kesenjangan preferensi antar generasi menjadi hambatan tersendiri. Generasi muda lebih terbuka pada dakwah digital karena terbiasa dengan teknologi, sementara generasi tua cenderung bertahan pada pendekatan konvensional.
Untuk itu, artikel ini menyarankan adanya sinergi antara dakwah digital dan konvensional. Kombinasi keduanya diyakini mampu menjangkau spektrum audiens yang lebih luas sekaligus menjaga kedalaman spiritualitas. Selain itu, para da’i diharapkan mampu memanfaatkan teknologi secara strategis dan etis, agar pesan Islam yang damai, inklusif, dan relevan dapat sampai ke hati masyarakat modern.
Komentar