Transformasi Ruang Lingkup Dakwah di Media Sosial: Bersua Menembus Layar

Transformasi Ruang Lingkup Dakwah di Media Sosial: Bersua Menembus Layar
Oleh: Munadiyah (Anggota Bidang Kewirausahaan Periode 24/25)

Dakwah merupakan upaya untuk menyampaikan pesan-pesan agama kepada masyarakat dengan tujuan mengajak mereka untuk beriman, beramal saleh, dan menjalankan ajaran Islam secara kaffah. Dalam pelaksanaannya, dakwah bisa dilakukan secara langsung melalui ceramah di tempat ibadah maupun secara tidak langsung melalui media digital. Kedua bentuk ini masih berlangsung hingga hari ini, namun perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah membuka ruang baru bagi aktivitas dakwah. Menurut Dudung Abdul Rohman (2019), masyarakat modern kini sangat terhubung dengan internet, media sosial, dan fitur digital lainnya, yang membuka peluang baru bagi penyampaian pesan keagamaan.
Media sosial memungkinkan penyebaran dakwah dilakukan secara fleksibel dalam berbagai bentuk—teks, gambar, video, maupun siaran langsung. Hal ini memberi peluang besar terutama untuk menjangkau generasi muda yang aktif di dunia digital.

Tujuan utama dakwah adalah meningkatkan pemahaman, kesadaran, penghayatan, dan apresiasi masyarakat terhadap ajaran agama. Secara umum, tujuan dakwah mencakup:
a. Mengajak manusia untuk beriman dan mengikuti ajaran Islam, yang mengarah pada keimanan kepada Allah SWT.
b. Membimbing muallaf agar lebih memahami dan mengamalkan ajaran Islam.
c. Mendorong umat Islam untuk terus meningkatkan ketaqwaan dan kedekatan kepada Allah SWT.
d. Mendidik anak-anak sejak dini agar tumbuh dalam nilai-nilai kebenaran dan fitrah Islam.

Dakwah yang efektif memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang terarah, sesuai dengan kebutuhan zaman. Media sosial adalah platform digital yang memungkinkan penggunanya berbagi tulisan, gambar, video, serta berinteraksi secara jaringan, baik secara individu maupun kelompok. Di era modern, media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi dan informasi, tetapi juga menjadi medium strategis untuk berdakwah dan menyebarkan nilai-nilai keislaman secara luas dan cepat. Media dakwah adalah alat yang digunakan pendakwah dalam menyampaikan ajaran Islam. Seiring perkembangan zaman, media dakwah pun mengalami transformasi: dari media tradisional seperti mimbar dan buku, menjadi media digital seperti blog, YouTube, Instagram, dan TikTok. Perangkat seperti smartphone semakin memudahkan akses ke berbagai platform tersebut. Dulu, interaksi digital terbatas pada layanan seperti Yahoo Messenger, namun kini komunikasi dan penyebaran dakwah dapat dilakukan melalui satu genggaman tangan.

Perkembangan Dakwah di Media Sosial. Transformasi dakwah dapat dipetakan sebagai berikut:
Dakwah Tradisional: Dilakukan melalui mimbar, pengajian, dan media cetak.
Era Digital: Dakwah merambah ke media sosial yang bersifat real-time dan interaktif.
Tantangan: Munculnya informasi hoaks, etika komunikasi digital, dan perbedaan pemahaman.
Strategi Modern: Menggunakan pendekatan kreatif, adaptif terhadap tren digital, dan berbasis data.

Contoh Kesuksesan: Banyak pendakwah muda yang berhasil membangun komunitas dakwah secara daring dengan jangkauan yang luas.

Secara etimologis, kata "dakwah" berasal dari akar kata دعا–يدعو–دعوة yang berarti menyeru atau memanggil. Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqy mencatat bahwa bentuk kata ini muncul sebanyak 215 kali dalam Al-Qur’an. Beberapa makna lain yang terkandung di antaranya:
Memohon pertolongan (istighatsah): seperti dalam ungkapan fad’u al-muslimin.
Ibadah: baik kepada Allah SWT maupun kepada selain-Nya (QS. Al-A’raf: 194).
Berdoa kepada Allah SWT: seperti dalam QS. Al-Baqarah: 186.
Mengajak kepada Islam: seperti seruan Nabi Muhammad kepada Heraklius.
Mengundang (an-nida’): seperti dalam QS. Al-Ahzab: 46.

Islam adalah agama dakwah (dīn ad-da‘wah), yang berarti menyeru umat manusia kepada jalan Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik. Media sosial memiliki potensi besar dalam menyebarkan dakwah karena:
Memungkinkan penyampaian pesan secara visual dan interaktif.
Memberi ruang untuk konten kreatif seperti video pendek, infografis, dan podcast.
Memfasilitasi komunikasi dua arah antara da’i dan audiens.
Menjangkau masyarakat yang lebih luas, tanpa batas geografis.
Membantu membangun komunitas keislaman yang solid secara daring.

Namun, untuk memaksimalkan manfaat ini, da’i perlu memiliki literasi digital, memahami algoritma media sosial, serta mampu beradaptasi dengan tren dan preferensi audiens.
Tantangan Dakwah di Media Sosial, berupa:
a. Keberagaman Informasi: Banyaknya konten tidak terverifikasi dapat membingungkan umat. Oleh karena itu, penting untuk menjadi pembaca dan penyebar informasi yang kritis.
b. Akhlak dan Etika Digital: Dalam QS. Al-Ma’idah [5:87], umat Islam diingatkan untuk tidak melampaui batas. Dalam konteks digital, ini mencakup penggunaan bahasa yang sopan, tidak menyebar kebencian, dan menjaga akhlak Islami saat berdiskusi di ruang maya.
Media sosial berperan penting dalam memperluas jangkauan dakwah. Platform seperti Facebook, Instagram, YouTube, hingga TikTok menjadi sarana efektif bagi da’i untuk menyampaikan ceramah, kajian, tulisan, hingga kutipan motivatif. Menurut Arif & Roem (2019), sosial media membuat dakwah menjadi lebih partisipatif. Salsabila & Muslim (2022) menambahkan bahwa interaksi langsung melalui fitur komentar atau pesan pribadi dapat meningkatkan efektivitas dakwah serta memperkuat hubungan sosial antarumat.

Transformasi dakwah dari ruang konvensional ke media sosial menunjukkan bahwa ajaran Islam bersifat dinamis dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Media sosial menghadirkan peluang besar untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman secara luas, kreatif, dan interaktif. Namun, hal ini juga menuntut da’i untuk menguasai literasi digital dan menjaga etika dalam berdakwah. Dengan pendekatan yang tepat, media sosial bukan hanya alat komunikasi, melainkan wahana strategis untuk membangun peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Insiden Mahasiswa yang Terbunuh di Masjid yang Mengemuka Publik

Resmi Dimulai! Pemasangan Tanda Kepesertaan Jadi Momen Spesial di Pembukaan Training Himpunan 2025

Hijab: Lebih dari Sekedar Penutup, Sebuah Dakwah yang Hidup