Dakwah Digital: Menyambut Peluang, Menyikapi Tantangan di Era Teknologi

Dakwah Digital: Menyambut Peluang, Menyikapi Tantangan di Era Teknologi
Oleh: Ahyad Mustafa Ramsir (Anggota Bidang Keilmuan Periode 24/25)

Dakwah merupakan sebuah tugas mulia yang memegang peranan penting dalam membangun dan memperbaiki kualitas masyarakat. Secara esensial, dakwah bertujuan untuk mewujudkan umat Islam yang lebih baik dan lebih sadar akan peran serta tanggung jawabnya. Sebagaimana perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 104, setiap muslim memiliki kewajiban untuk memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kewajiban ini menegaskan bahwa dakwah bukan hanya tugas para ulama atau dai saja, melainkan tanggung jawab seluruh umat Islam sesuai kemampuan masing-masing.

Di era modern ini, dakwah tidak bisa dilepaskan dari perkembangan zaman, khususnya kemajuan teknologi digital yang begitu pesat. Internet dan media sosial telah menjadi ruang baru yang menawarkan berbagai peluang untuk menyebarkan nilai-nilai Islam secara lebih luas dan efektif. Dengan karakteristiknya yang kreatif dan inovatif, teknologi digital memungkinkan metode dakwah yang lebih beragam dan menarik, sehingga pesan kebaikan dapat menjangkau audiens yang lebih luas tanpa batasan waktu dan tempat.

Namun, di balik berbagai peluang tersebut, dakwah digital juga menghadirkan tantangan yang tidak kalah besar. Salah satu tantangan utama adalah bagaimana para dai dapat mengemas pesan dakwah dengan cara yang menarik sekaligus tetap menjaga kedalaman ilmu dan keotentikan ajaran Islam. Tidak sedikit dai yang secara keilmuan mumpuni, namun kesulitan beradaptasi dengan pola komunikasi digital sehingga kurang mampu bersaing dengan tokoh-tokoh viral yang mungkin kurang mendalam secara ilmu, tapi piawai dalam membungkus pesan dengan gaya yang menarik dan mudah diterima masyarakat.

Literasi digital menjadi kunci penting bagi para dai agar mampu memahami karakter audiens, terutama generasi milenial yang cenderung cepat bosan dan menyukai konten yang kreatif dan ringkas. Kemudahan akses informasi keagamaan juga membawa risiko tersendiri, yakni tersebarnya informasi yang belum tentu akurat dan kredibel. Karena kurangnya pengawasan dan filter konten yang efektif, sering kali terjadi pembauran makna ajaran Islam, yang berpotensi menimbulkan kebingungan antara hal-hal yang sakral dan profan.

Di sisi lain, peluang dakwah digital tidak hanya terbatas pada penyampaian pesan, tetapi juga pada pembentukan komunitas dakwah yang mudah dan cepat. Mad’u dapat mengikuti kajian, ceramah, dan berbagai aktivitas dakwah hanya melalui gawai tanpa batas geografis. Selain itu, popularitas para dai pun dapat meningkat secara signifikan berkat kehadiran mereka di dunia maya.

Pada akhirnya, dakwah digital adalah sebuah transformasi yang mengajak kita untuk tidak hanya memanfaatkan teknologi sebagai media, tetapi juga menanamkan nilai-nilai etika dan kejujuran dalam penyampaian pesan. Agar dakwah di era digital dapat berjalan efektif, diperlukan niat yang tulus, kecakapan dalam menggunakan media, serta pemahaman mendalam tentang dinamika sosial dan budaya zaman ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Insiden Mahasiswa yang Terbunuh di Masjid yang Mengemuka Publik

Resmi Dimulai! Pemasangan Tanda Kepesertaan Jadi Momen Spesial di Pembukaan Training Himpunan 2025

Hijab: Lebih dari Sekedar Penutup, Sebuah Dakwah yang Hidup