Dakwah Terlupakan di Kampung: Siapa yang Akan Menyapa Mereka?
Dakwah Terlupakan di Kampung: Siapa yang Akan Menyapa Mereka?
Oleh: Khair Khalis (Anggota Bidang Litbang Periode 24/25)
Di tengah gegap gempita dakwah di kota-kota besar, kita sering lupa bahwa di balik pegunungan, di ujung jalan berbatu, masih ada banyak kampung yang haus akan cahaya Islam. Mereka tidak punya akses mudah ke majelis ilmu, tidak ada ustaz yang rutin datang, bahkan sebagian dari mereka belum memahami rukun iman dan rukun Islam dengan benar. Mirisnya, para pendakwah hari ini lebih banyak menetap dan sibuk berdakwah di kota, sementara perkampungan semakin tertinggal secara keilmuan.
Dakwah adalah tugas mulia yang seharusnya tidak hanya dinikmati oleh orang-orang kota. Agama Islam tidak hanya untuk yang tinggal di sekitar masjid megah, gedung bertingkat, dan lingkungan modern. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, termasuk saudara-saudara kita yang tinggal jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak kampung yang sangat membutuhkan bimbingan agama. Masih ada yang menganggap selamatan atau ritual tertentu sebagai bagian dari ajaran Islam, padahal itu bersumber dari budaya turun-temurun yang belum tentu sesuai syariat. Banyak anak-anak kampung yang belum pernah mengaji, belum tahu bagaimana tata cara salat yang benar, bahkan tak paham makna wudhu. Jika ini terus dibiarkan, bagaimana generasi mereka ke depan?
Lalu, di mana para pendakwah? Ironisnya, banyak pendakwah saat ini lebih memilih berdakwah di kota. Mereka lebih nyaman berada di tempat yang fasilitasnya memadai, jemaahnya banyak, dan tentu, kadang lebih "menguntungkan" secara materi. Di kota, mereka disambut dengan hotel, sound system yang bagus, dan amplop berisi penghargaan. Sementara kalau ke kampung, jalanan rusak, sinyal susah, rumah seadanya, dan mungkin hanya disuguhi singkong rebus serta air hangat.
Tentu kita tidak menyalahkan para pendakwah yang di kota. Mereka juga punya peran penting. Namun, jika semua memilih kota, lalu siapa yang akan ke kampung? Siapa yang akan mengajari para petani, nelayan, dan warga desa tentang Islam yang benar? Siapa yang akan membimbing anak-anak desa agar mereka juga bisa mengaji dan mengenal Allah?
Perlu ada kesadaran bersama bahwa dakwah harus menjangkau semua lapisan masyarakat, termasuk yang berada di daerah terpencil. Bahkan, dakwah ke kampung-kampung justru sangat mulia karena tantangannya besar dan keikhlasannya diuji. Rasulullah pun berdakwah tidak hanya di pusat kota, tapi juga keluar ke berbagai wilayah yang sulit dijangkau.
Sudah saatnya lembaga dakwah, pesantren, dan para ustaz muda mulai memikirkan strategi dakwah untuk kampung. Bisa dengan mengirim dai menetap, membuat program safari dakwah, atau membangun pusat pembelajaran agama sederhana di desa. Sekecil apapun usaha dakwah di kampung, akan sangat berarti bagi mereka yang selama ini terabaikan.
Mari kita doakan dan dukung para pendakwah yang siap menembus sunyinya desa demi menyebarkan ilmu dan akhlak mulia. Karena kampung juga punya hak yang sama untuk mendapat cahaya Islam. Jangan biarkan mereka berjalan dalam gelap, hanya karena tak ada yang mau membawa pelita ke sana.
Komentar