Hidup Serius, Tapi Lupa Arah: Mau ke Mana Sebenarnya?
Hidup Serius, Tapi Lupa Arah: Mau ke Mana Sebenarnya?
Oleh: Nurhafifah Abbas (Anggota Bidang Litbang Periode 24/25)
Dalam dunia yang terus bergerak cepat, banyak manusia terjebak dalam rutinitas tanpa akhir. Pagi disambut dengan notifikasi, siang dihabiskan dengan ambisi, dan malam diakhiri dengan kelelahan yang tak selalu bermakna. Perlahan tapi pasti, banyak dari kita hidup seolah akan tinggal di dunia ini selamanya—mengejar kesuksesan duniawi, pujian manusia, dan validasi digital, sementara hati perlahan kehilangan arah.
Pernahkah kamu sejenak merenung dan merasa hidup ini seperti jalan tol? Cepat, sibuk, dan penuh target. Lulus cepat. Kerja mapan. Nikah. Bangun rumah. Naik jabatan. Jalan-jalan ke luar negeri. Beli mobil. Lalu apa? Terus kejar, terus lari. Sampai lupa sebenarnya kita mau ke mana?
Di zaman sekarang, hidup jadi semacam lomba yang bahkan tidak ada garis finish-nya. Semua orang berlomba jadi paling sibuk, paling keren, paling produktif. Scroll media sosial isinya pencapaian orang. Kita pun ikut-ikutan. Tapi di tengah semua kesibukan itu, pernahkah kita berhenti sejenak dan tanya: "Sebenernya, buat apa sih semua ini?"
Kita sering kali begitu sibuk membangun kehidupan, sampai lupa alasan kenapa kita hidup. Kita kejar semua yang dunia tawarkan, tapi makin hari malah makin kosong di dalam. Kita pikir uang bisa jadi jawaban, padahal hati tetap resah. Kita pikir popularitas bisa bikin puas, padahal makin dikenal, makin lelah.
Padahal, Allah sudah kasih clue sejak awal:
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku." (QS. Az-Zariyat: 56)
Tujuan kita bukan sekadar sukses di dunia. Bukan cuma dapat gelar, gaji besar, atau validasi dari orang lain. Tujuan utama kita adalah mengabdi kepada Allah, menjalani hidup ini sebagai bekal untuk kehidupan yang sesungguhnya: akhirat.
Kita ini hanya numpang lewat di dunia. Tempat singgah sebentar sebelum pulang. Tapi banyak dari kita yang justru sibuk renovasi tempat singgah, lalu terlalai dan lupa akan persiapan bekal untuk tempat tinggal abadi. Tidak salah jika punya mimpi dan cita-cita duniawi. Islam pun tidak melarang kita jadi orang sukses. Tapi yang salah adalah ketika semua itu bikin kita terlena. Menjadi lupa akan shalat tepat waktu, lupa tilawah, lupa merenung, apalagi jika sampai lupa bahwa hidup ini punya akhir yang pasti.
Maka yuk, istirahat sejenak dari lomba ini. Tarik napas, tenangkan hati, dan tanya lagi: "Hidup ini mau aku bawa ke mana?" Jangan sampai jadi orang yang sibuk, tapi tidak tahu tujuan. Capek, tapi tidak jelas mau ke mana. Kaya, tapi hampa.
Karena sejatinya, hidup bukan hanya tentang seberapa cepat kita berlari, tapi seberapa tepat arah yang kita pilih. Dunia ini fana. Akhirat itu kekal. Jangan sampai kita terlalu sibuk dengan perjalanan, tapi lupa tujuan.
Komentar