Nyaman Kita, Luka Mereka: Masihkah Kita Diam?
Nyaman Kita, Luka Mereka: Masihkah Kita Diam?
Oleh: Musallama Bil Khiari (Sekretaris Bidang Medkom dan Humas Periode 24/25)
Coba jujur sejenak: kapan terakhir kali kita benar-benar bersyukur atas air bersih yang mengalir di kamar mandi, listrik yang menyala sepanjang hari, atau suara azan yang berkumandang tanpa takut diserang? Mungkin kita terlalu sibuk dengan rutinitas—kuliah, kerja, scrolling medsos—sampai lupa bahwa semua kemudahan itu adalah nikmat yang tak dimiliki semua orang.
Di belahan dunia lain, tepatnya di Palestina, hidup tidak berjalan semulus itu. Di saat kita rehat dengan kopi di tangan dan AC menyala, ada saudara kita yang hidup di bawah ancaman bom dan dentuman senjata. Saat kita sibuk memilih menu sarapan, mereka mungkin hanya sibuk akan hidupnya apakah esok masih bisa bertahan.
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, kita hidup dalam kenyamanan yang sering kali terasa otomatis. Ketika lapar, mendapat makanan bahkan dengan mudah didapatkan tinggal pesan lewat aplikasi saja, kasur empuk menyambut lelah kita setiap malam, internet super cepat mengantar hiburan tanpa batas. Semua dengan senang dinikmati, terasa serba mudah, serba instan, dan jujur saja: terkadang kita lupa bersyukur.
Isu Palestina bukan cuma soal konflik berkepanjangan. Ini adalah potret nyata tentang ketimpangan kemanusiaan. Tentang hak dasar yang dirampas—rumah, air bersih, akses pendidikan, bahkan nyawa. Dan yang paling menyedihkan, dunia terlalu sering memilih untuk diam, atau sekadar menaruh simpati tanpa aksi.
Sebagai muslim, kita punya kewajiban lebih. Bukan hanya karena mereka saudara seiman, tapi juga karena Islam mengajarkan untuk peka terhadap penderitaan sesama. Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Jika satu bagian sakit, seluruh tubuh ikut merasakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Banyak. Tak harus langsung ke medan juang. Kita bisa mulai dengan hal sederhana: doakan mereka dalam setiap sujud. Gunakan media sosial untuk menyebarkan kesadaran, bukan sekadar konten hiburan. Sisihkan sebagian rezeki untuk donasi. Dan yang tak kalah penting: jangan sampai kemudahan hidup membuat hati kita keras dan lupa bahwa kita punya tanggung jawab sosial dan spiritual.
Kehidupan yang serba mudah bukanlah sesuatu yang harus kita sesali. Tapi ia adalah pengingat, bahwa mungkin kita sedang diuji dengan kemudahan yang kita rasakan sebagaimana mereka diuji dengan kesulitan. Maka jangan biarkan kenyamanan melumpuhkan kepedulian kita terhadap Palestina.
Mari jadikan isu Palestina sebagai cermin untuk menata ulang kepekaan hati kita. Dunia ini bukan hanya tentang diri sendiri. Di luar sana, ada nyawa yang menggantung harapan—dan bisa jadi, salah satu doa kita yang tulus menjadi alasan mereka kuat satu hari lagi.
Komentar