Pendidikan Ala Nabi: Solusi yang Terlupakan di Era Modern
Pendidikan Ala Nabi: Solusi yang Terlupakan di Era Modern
Oleh: Emha Rizqan Arista (Koordinator Bidang Kewirausahaan Periode 24/25)
Menghidupkan Kembali Pendidikan Ala Nabi Muhammad SAW
Di tengah derasnya arus modernisasi, dunia pendidikan kita mengalami tantangan yang tidak ringan. Bukan hanya soal kurikulum atau fasilitas, namun juga menyangkut nilai dan arah pendidikan itu sendiri. Kita menyaksikan berbagai fenomena yang mengkhawatirkan—dari maraknya konten tidak bermoral di media sosial, hingga meningkatnya kasus-kasus pelecehan yang melibatkan baik peserta didik maupun pendidik. Jika ditelusuri lebih dalam, salah satu akar masalahnya adalah terputusnya hubungan antara pendidikan modern dan warisan pendidikan Rasulullah Muhammad SAW.
Padahal, Rasulullah SAW telah memberikan teladan pendidikan yang komprehensif dan menyentuh seluruh aspek kehidupan. Pendidikan yang beliau bawa tidak sekadar memindahkan ilmu, tapi membentuk akhlak dan kepribadian mulia. Nabi Muhammad SAW mengajarkan dengan penuh kasih, melalui keteladanan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika tidak ada makanan di rumah, beliau tidak mengeluh, namun justru memilih untuk berpuasa. Ini bukan sekadar sikap spiritual, tapi juga pelajaran besar tentang kesabaran, syukur, dan cinta dalam keluarga.
Berbeda dengan sistem pendidikan saat ini yang cenderung memisahkan ilmu agama dan ilmu umum, Rasulullah SAW memandang semua ilmu sebagai jalan menuju pemahaman yang lebih dalam terhadap kebesaran Allah SWT. Bagi beliau, tidak ada dikotomi ilmu, karena semuanya kembali kepada tujuan hidup manusia: mengabdi kepada Tuhan dan menjadi pribadi yang bermanfaat.
Pendidikan ala Nabi juga sangat personal dan kontekstual. Beliau memahami karakter setiap sahabat dan menyesuaikan pendekatan pengajaran sesuai kebutuhan masing-masing. Belajar tidak melulu di tempat formal, tapi bisa terjadi kapan saja, di mana saja—dalam pertemuan kecil, dalam perjalanan, bahkan dalam momen keseharian yang tampak sederhana.
Satu hal yang juga sangat membedakan adalah keteladanan sang pendidik. Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan, tetapi menjadi contoh hidup dari ajaran yang beliau sampaikan. Ini yang sering hilang dalam dunia pendidikan modern, di mana guru hanya menjadi penyampai teori tanpa membentuk relasi keteladanan yang kuat. Padahal, generasi muda hari ini lebih membutuhkan figur untuk diteladani daripada sekadar buku pelajaran.
Tujuan akhir pendidikan dalam Islam adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta membentuk insan yang bahagia di dunia dan akhirat. Sayangnya, sistem pendidikan kini lebih diarahkan pada pencapaian materi, karier, dan status sosial semata. Bahkan, pemisahan antara sekolah umum dan sekolah agama memperparah kondisi ini. Seharusnya, agama menjadi ruh dari setiap bentuk pendidikan, sebagaimana semangat sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa.
Saya yakin, nilai-nilai pendidikan ala Nabi Muhammad SAW masih sangat relevan, bahkan menjadi solusi dari krisis karakter yang kita hadapi saat ini. Pendidikan yang menekankan akhlak, integrasi ilmu, pembelajaran yang personal, keteladanan, dan orientasi spiritual, adalah kunci membentuk generasi unggul. Kini saatnya kita menghidupkan kembali warisan pendidikan yang telah lama kita abaikan.
Mari kita kembali pada cara Rasulullah mendidik, agar kita tak kehilangan arah dalam membentuk masa depan.
Komentar