Pesantren: Pilar Dakwah Islam yang Tak Pernah Usang
Pesantren: Pilar Dakwah Islam yang Tak Pernah Usang
Oleh: Syawal Aswandi (Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Angk.2023)
Dakwah Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari eksistensi pesantren. Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara, pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, melainkan juga pusat pembentukan karakter, penyemaian nilai-nilai sosial, dan penguatan budaya Islam. Hal inilah yang menjadi fokus kajian H. Toni dalam artikelnya yang berjudul “Pesantren Sebagai Potensi Pengembangan Dakwah Islam”, diterbitkan dalam Jurnal Dakwah dan Komunikasi tahun 2016.
Dalam bagian pendahuluan, H. Toni menggarisbawahi posisi strategis pesantren dalam konteks dakwah di era modern. Menurutnya, pesantren tidak bisa lagi dilihat semata sebagai lembaga konservatif yang kaku terhadap perubahan. Sebaliknya, pesantren adalah entitas yang lentur dan mampu beradaptasi dengan zaman, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai penjaga ajaran Islam yang otentik.
Penulis menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali fenomena ini lebih dalam. Ia mengandalkan studi literatur dan wawancara dengan pengelola pesantren sebagai sumber utama. Walaupun detail teknis seperti jumlah responden dan metode analisis data tidak dipaparkan secara mendalam, pendekatan ini cukup memberi ruang bagi pembaca untuk memahami konteks, dinamika, dan tantangan yang dihadapi pesantren dalam misi dakwahnya.
Hasil kajian menunjukkan bahwa pesantren memiliki dua potensi besar dalam pengembangan dakwah. Pertama, sebagai lembaga pendidikan, pesantren berperan mencetak generasi muda yang tidak hanya paham ajaran Islam, tetapi juga mampu menerapkannya secara kontekstual dalam kehidupan bermasyarakat. Kedua, pesantren memiliki fungsi sosial yang kuat: menjadi pusat pemberdayaan masyarakat di berbagai bidang, mulai dari ekonomi hingga politik.
Namun, bukan berarti peran ini berjalan mulus tanpa hambatan. Salah satu tantangan utama yang disoroti adalah adanya stereotip negatif terhadap pesantren yang dianggap kolot dan tertinggal. Di sinilah pentingnya inovasi. H. Toni menekankan bahwa pesantren harus terus berbenah, baik dalam metode pengajaran maupun pendekatan dakwahnya, agar tetap relevan bagi generasi muda yang hidup dalam era digital.
Sebagai penutup, penulis merekomendasikan kolaborasi yang lebih luas antara pesantren dengan pemerintah maupun organisasi masyarakat. Dukungan eksternal ini dinilai penting untuk memperkuat peran pesantren dalam menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang damai, inklusif, dan membangun.
Tulisan ini mengajak kita untuk menengok kembali peran pesantren, bukan sekadar sebagai institusi pendidikan, melainkan sebagai agen perubahan sosial yang aktif dan progresif. Dakwah Islam, dengan segala tantangan dan kompleksitasnya, membutuhkan fondasi yang kuat—dan pesantren telah lama menjadi salah satu pilar utamanya.
Komentar